Tampilkan postingan dengan label science. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label science. Tampilkan semua postingan

9 April 2013

4 Anak Macan Putih yang Langka Ini Ada Di Jepang

Macan putih yang sangat langka untuk pertama kalinya diperlihatkan di Kebun Binatang Tobu, Jepang, pasca melahirkan anak-anaknya.

Tidak hanya itu, pengunjung pun diizinkan untuk memfilmkan empat anaknya tersebut dari kandang. Bayi macan putih ini belum dipisahkan dari ibunya karena dianggap masih terlalu muda, demikian dikutip ITN, Sabtu (6/4/2013).

Tetapi pengunjung tidak diperbolehkan untuk melihat mereka dari jarak dekat, sehingga pihak kebun binatang menyiarkan aktivitas dalam kandang tersebut melalui televisi di luar kandangnya.

Seperti diketahui, macan putih merupakan spesies langka dengan populasi hanya 100 sampai dengan 200 ekor di seluruh dunia. Sehingga kelahiran empat anak macan ini merupakan momen yang sangat berharga bagi pengelola kebun binatang.

Hingga saat ini keempat anaknya belum diberi nama oleh pihak kebun binatang. Rencananya, mereka akan menggelar upacara pemberian nama pada akhir Mei mendatang.

Untuk melihat seperti apa video macan putih beserta anaknya, klik link ini.

8 April 2013

Lumba-Lumba Sungai Terancam " PUNAH "

Sebuah studi baru yang dilakukan para peneliti dari Woods Hole Oceanographic Institute (WHOI) dan Aarhus University di Denmark, menemukan fakta bahwa salah satu hewan yang memiliki tingkat  kepunahan paling tinggi adalah lumba-lumba sungai.

Lumba-lumba yang hidup di sungai Gangga, India, dianggap sebagai salah satu spesies tertua dari hewan air yang menggunakan teknik echolocation (biosonar), sebagai alat navigasi untuk mencari makan.

Dilansir Redorbit, Sabtu (6/4/2013), hasil studi yang diterbitkan dalam jurnal PLos ONE ini menemukan bahwa lumba-lumba sungai atau air tawar menghasilkan sinyal biosonar secara signifikan melalui intensitas suara dan frekuensi yang lebih rendah dibandingkan dengan lumba-lumba laut.

“Lumba-lumba di peraian Gangga merupakan salah satu cabang evolusi paling kuno yang berasal dari paus bergigi. Temuan kami menunjukkan bahwa intensitas suara dan frekuensi pada lumba-lumba sungai, merupakan tahap awal perkembangan dari kemampuan biosonar yang saat ini dimiliki oleh lumba-lumba laut,” ungkap salah seorang mahasiswa doctoral Natural Science (NFU) di WHOI.

Peneliti mengklaim perbedaan antara lumba-lumba air tawar dengan lumba-lumba laut dikarenakan lingkungan tempat mereka tinggal. Lumba-lumba laut biasanya melintasi hamparan luas laut terbuka sehingga lebih mudah mencari makanan, sedangkan lumba-lumba sungai mengalami kesulitan saat mencari makanan yang berupa ikan kecil dan krustasea dengan jumlah sedikit.

Lumba-lumba sungai memetakan lingkungannya menggunakan biosonar. Ia akan terus memancarkan suaranya untuk dapat mendengarkan pantulan gema yang samar terdengar. Suara yang dipantulkan kembali mendandakan daerah-daerah yang memiliki persediaan makanan untuk lumba-lumba sungai.

Jenis lumba-lumba sungai yang terancam punah, saat ini hanya memiliki jumlah sekira seribu spesies. Selain karena kesulitan makanan, hal ini juga disebabkan ekosistem sungai yang semakin tercemar serta penangkapan secara berlebihan oleh manusia.

5 April 2013

Gunung Api Paling Mematikan di Dunia

Gunung api paling mematikan di dunia dapat menimbulkan kerusakan hingga kepunahan massal makhluk hidup. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Geology mengungkap perisitiwa kepunahan yang terjadi 252 juta tahun lalu.

Bukti baru terkuak dari Salt Range di Pakistan, di mana tanaman fosil mengungkap adanya sejumlah besar karbondioksida dalam atmosfer. Konon, dampak gunung api ini juga mengakibatkan iklim global mengalami kenaikan temperatur hingga menghasilkan pemanasan global.

Ratusan juta tahun lalu, gunung api atau aktivitas vulkanik mengalami peningkatan. Vulkanik yang terjadi di periode 'Permian' (skala waktu geologi yang berlangsung antara 298,9 - 252,2 juta tahun lalu) ini melepaskan sejumlah besar karbondioksida ke atmosfer Bumi.

Siberian Traps dikenal sebagai erupsi vulkanik paling besar dalam sejarah Bumi. Kabarnya, peristiwa terjadinya letusan gunung api ini bersamaan dengan peristiwa kepunahan besar makhluk hidup di Bumi.

Siberian Traps merupakan endapan vulkanik raksasa yang memunculkan aliran lava jumbo. Selain itu, peristiwa letusan gunung api tersebut juga memusnahkan spesies dinosaurus.

Dalam penelitian yang dilakukan peneliti dari Norwegia, Belanda, Swiss dan Pakista, memfokuskan pada data karbon dari tanaman, khususnya lapisan terluar pada kulit tanaman serta fragmen fosil kayu. Mereka menggunakan isotop karbon-13 dalam kutikula tanaman untuk meneliti CO2 atmosfer yang melintasi batas zaman Permian-Triassic.

Peneliti menemukan bahwa gunung api paling besar ini menyebabkan hilangnya 96 persen seluruh spesies laut. Tidak hanya itu, sekira 70 persen dari semua hewan vertebrata darat juga punah akibat letusan gunung api yang terjadi di zaman purba tersebut.

1 April 2013

Studi Terbaru Ungkap Dampak Hantaman Asteroid

Bukti baru mengungkap bahwa asteroid kuno bisa menyebabkan badai api (firestorm) secara global di Bumi. Dampak asteroid tersebut, seperti yang pernah menghantam Bumi di zaman dinosaurus, dapat menimbulkan kepunahan hingga 80 persen spesies makhluk hidup.

Penelitian terbaru terkait kondisi setelah asteroid raksasa menabrak wilayah Meksiko masa lampau, menunjukkan bahwa peristiwa tersebut bisa memicu badai api global. Badai api ini bisa membakar setiap ranting, semak dan pohon yang ada di Bumi.

Penelitian yang dilakukan Douglas Robertson dari Cooperative Institute for Research in Environmental Sciences (CIRES) mengungkap model yang dapat menunjukan peristiwa tabrakan asteroid. Ketika asteroid menghantam Bumi, maka tumbukan dapat menguapkan sejumlah besar batu yang kemudian ditiupkan tinggi di atas atmosfer Bumi.

Proses tersebut memungkinkan batuan untuk terpental kembali ke udara dan bisa memanaskan atmosfer Bumi bagian atas. Ilmuwan mengatakan bahwa panas yang dihasilkan di atmosfer tersebut bisa mencapai suhu 2.700 derajat Fahrenheit.

Dengan suhu ekstrem tersebut, bisa mengancam kehidupan makhluk hidup Bumi. Tim peneliti mengklaim telah menemukan sedikit arang yang berusia sejak zaman Kapur-Paleogen sekira 66 juta tahun lalu.

Dampak badai api ini juga menimbulkan kebakaran hebat yang dahulu pernah terjadi di zaman hewan purba. "Data kami menunjukkan kondisi saat itu konsisten dengan kebakaran yang meluas di seluruh planet ini," ujar Robertson, peneliti dari CIRES.

31 Maret 2013

Peneliti Temukan Dua Spesies Tikus Baru di Madagaskar

Sebuah publikasi dalam International Journal of Primatology, mengungkapkan sebuah studi yang menemukan penemuan dua spesies tikus lemur (Microcebus) baru di wilayah timur Madagaskar, Afrika.

Peneliti satwa liar menjelaskan bahwa Microcebus Marohita memiliki berat 2,5 ons atau sekira 78 gram, sedangkan Microcebus Tanosi beratnya hanya 1,76 ons (sekira 50 gram).

Dengan berat badannya ini, Microcebus Marohita dikenal sebagai hewan terbesar diantara spesiesnya.

Kedua spesies sudah terancam punah sejak beberapa tahun lalu dikarenakan kehilangan habitat alaminya dan perdagangan satwa liar.

“Kita perlu mengerti secara persis daerah mana saja yang memiliki jumlah spesies tertentu yang terancam punah. Hal ini dikarenakan agar kita dapat menentukan pembangunan daerah konservasi untuk melindungi mereka,” ungkap seorang peneliti, Peter Kappeler.

Menurut Wikipedia, tikus lemur merupakan hewan nocturnal (yang keluar hanya pada saat malam hari saja) dari genus Microbus. Hewan ini merupakan hewan asli dari Madagaskar.

Tikus lemur memiliki tubuh dan panjang ekor kurang dari 11 inci atau sekira 27 centimeter yang membuatnya sebagai kelompok primata terkecil.

Tikus ini tergolong omnivora yang memakan sekresi serangga, arthropoda, vertebrata kecil, permen, buah, bunga, nectar, daun, dan tunas (tergantung pada musim).

18 Maret 2013

Rutin Main Game Tingkatkan Kecerdasan Otak

Penelitian terbaru yang dilakukan ilmuwan asal Nanyang Technological University, Singapura, mengungkap bahwa kemampuan kognitif atau berpikir bisa semakin terasah dengan cara bermain game.

Bermain game selama satu jam setiap hari bisa meningkatkan performa pada tugas-tugas terkait sisi kognitif seseorang. Penelitian ini dilakukan oleh Adam Chie-Ming Oei dan Michael Donald Patterson dari Nanyang Technological University.

Penelitian ini melibatkan beberapa partisipan. Partisipan non-gamer memainkan lima game yang berbeda pada smartphone selama satu jam per hari serta lima hari dalam sepekan selama satu bulan.

Beberapa partisipan bermain game puzzle seperti Bejeweled, yang memungkinkan mereka untuk mencocokan tiga objek identik. Selain itu, mereka juga memainkan game simulasi seperti The Sims, game aksi atau game yang menantang mereka untuk menemukan objek tersembunyi.

Selama satu bulan, peneliti menemukan bahwa partisipan yang bermain game aksi memiliki kemampuan untuk menelusuri beberapa objek dalam kurun waktu singkat. Selain itu, partisipan juga memiliki kecekatan dalam mencocokan tiga objek benda serta peningkatan daya ingat.

Penelitian sebelumnya telah melaporkan bahwa game aksi bisa meningkatkan kemampuan kognitif. Namun, para peneliti menegaskan bahwa ini merupakan studi pertama yang menunjukkan keterampilan berbeda dapat ditingkatkan dengan jenis game yang berbeda pula.

NB :
Jangan Terlalu sering bermain game ( Lebih dari 2 jam dalam 1 hari for max) karena akan membuat ketahanan tubuh menurun, jadi akan mudah terkena penyakit. Jadi lebih baik main game selama 1 jam setiap hari saja.

Bisakah Ilmuwan "Hidupkan Kembali" Hewan Purba?

Ilmuwan berencana untuk menghidupkan kembali hewan purba yang telah punah ribuan tahun lalu. Menggunakan teknologi seperti kloning dan genome sequencing (pengurutan gen), ilmuwan mengklaim dapat memunculkan kembali hewan purba yang telah punah.

Dilansir Nbcnews, Jumat (15/3/2013), spesies purba yang hendak dimunculkan kembali ini ialah Mammoth, yang telah punah 3 ribu sampai 10 ribu tahun lalu. Di Maret tahun lalu, ilmuwan di Rusia dan Korea Selatan mengumumkan sebuah kerjasama bahwa mereka akan berusaha untuk mengkloning Mammoth dan menghasilkan spesimen Mammoth yang hidup.

"Ini menggunakan teknologi baru seperti kloning pengurutan gen untuk merekonstruksi spesies yang punah," ungkap peneliti Carl Zimmer. Ilmuwan sebelumnya telah berhasil mengklaim seekor Domba Dolly pada 1996.

Hewan mamalia tersebut bisa dikloning melalui sel di dalam laboratorium. Ilmuwan asal Spanyol dan Prancis telah bekerja selama bertahun-tahun untuk membawa kembali kambing Pyrenean ibex (Capra pyrenaica pyrenaica) dari kepunahan.

Ilmuwan telah melakukan kloning sel pada hewan tersebut. Namun, hewan tersebut tak dapat bertahan hidup dalam waktu yang lama. Diketahui hewan tersebut mati setelah 10 menit usai kelahiran.

Peneliti dari Rusia dan Korea berusaha untuk melakukan "penghidupan kembali" pada spesies Mammoth dengan cara melihat jaringan Mammoth berbulu yang diawetkan dalam mesin pendingin di Siberia. Mereka berharap bisa menemukan sel-sel yang cocok untuk kloning.

NASA: Mars Mendukung Munculnya Kehidupan

Planet tetangga terdekat Bumi, Mars, kini dianggap sebagai rumah bagi kehidupan yang pernah terjadi sekira jutaan tahun lalu. Badan antariksa asal Amerika Serikat, NASA menyatakan bahwa Mars bisa mendukung munculnya kehidupan.

Kabar ini datang usai robot jelajah Mars, Curiosity yand diciptakan NASA berhasil mengungkap bukti terkait sampel material yang ada di planet merah tersebut. Dilansir Skymania, Rabu (13/3/2013), analisis sampel yang dilakukan Curiosity menunjukkan bahwa Mars mengandung beberapa bahan kimia untuk bisa memunculkan kehidupan.

Material bubuk yang diperoleh Curiosity dari batu dekat situs Mars menunjukkan bahwa Mars merupakan lingkungan ideal untuk mikroba sederhana. Bukti terbaru yang didapat dari situs pendaratan Curiosity, Gale Crater merupakan langkah besar yang diharapkan mampu menjawab apakah ada kehidupan di Mars.

Beberapa kalangan percaya bahwa kehidupan sederhana di Mars mungkin masih bertahan di bawah permukaan. Kehidupan sederhana tersebut bisa memproduksi gumpalan metana yang terdeteksi di sekitar Mars.

Temuan terbaru, NASA telah menemukan sulfur, nitrogen, hidrogen, oksigen, fosfor dan karbon di dalam sampel yang dianalisis oleh Curiosity. Robot mutakhir berpenggerak enam buah roda ini telah mendarat di Mars sejak Agustus tahun lalu.

"Pertanyaan mendasar untuk misi ini adalah apakah Mars bisa mendukung lingkungan yang dapat dihuni. Dari apa yang kami ketahui sekarang, jawabannya adalah ya," pungkasnya.

17 Maret 2013

Suhu Bumi Terpanas Pernah Terjadi di Zaman Firaun

Studi terbaru yang dilakukan peneliti dari Amerika Serikat, mengungkap bahwa di zaman Firaun (ribuan tahun lalu) iklim dunia mencapai titik terpanas ketimbang suhu Bumi saat ini.
Studi terbaru ini didukung oleh National Science Foundation untuk mengungkap suhu Bumi di masa lalu. Metode analisis ini meliputi serbuk sari kuno, inti es, kerang dari organisme laut dan sebagainya.

Salah satu hasil temuan dari penelitian ini ialah, terungkap bahwa temperatur mulai dari 2000-2009 belum melebihi suhu terpanas dari awal zaman Holosen (5000 hingga 10 ribu tahun lalu). Wikipedia menerangkan, Holosen merupakan skala waktu yang berlangsung antara 9560 sampai 9300 sebelum masehi.

"Dalam 100 tahun terakhir, peningkatan karbondioksida melalui emisi meningkat dari kegiatan manusia," ungkap peneliti Shaun Marcott dari Oregon State University. Diyakini sekira 5000 tahun lalu, Bumi diketahui lebih hangat ketimbang saat ini .

Ilmuwan percaya bahwa terdapat "periode hangat abad pertengahan" yang terjadi sekira seribu tahun lalu. Ilmuwan dari Johannes Gutenberg-Universitat di Mainz, Jerman juga pernah meneliti tentang suhu Bumi ribuan tahun lalu.

Beberapa ilmuwan setuju tentang hasil temuan Marcott. Mereka mengatakan, di zaman pertengahan (Medieval) dan Romawi suhu Bumi menghangat. Dalam penelitian lain, diyakini bahwa pemanasan global diharapkan hanya berlangsung dalam abad ini, yang menandakan meningkatnya permukaan laut pada skala meter atau lebih hingga tahun 2100.

9 Maret 2013

Fosil Unta Raksasa Ditemukan di Pegunungan Kanada

Tim arkeolog baru-baru ini menemukan fosil unta raksasa di wilayah pegunungan High Arctic, Kanada. Beberapa sisa tulang ditemukan oleh tim arkeolog, yang menunjukkan spesies unta raksasa yang pernah hidup di zaman prasejarah.

Tim arkeolog bekerjasama dengan Canadian Museum of Nature untuk mengungkap temuan fosil hewan masa lampau tersebut. Hasil analisis fosil menunjukkan, unta ini pernah hidup sekira 3,5 juta tahun lalu.

Kondisi suhu Bumi di 3,5 juta tahun lalu diyakini mencapai 14 derajat celcius. Temperatur suhu tersebut masih lebih tinggi ketimbang suhu Bumi di wilayah setempat saat ini.

Situs resmi Canadian Museum of Nature mengatakan, ditemukan 30 fragmen fosil yang menunjukkan bagian kaki satu individu unta. Kabarnya, fosil ini ditemukan selama ekspedisi tiga musim panas, yakni mulai dari tahun 2006, 2008, 2010.

"Ini merupakan penemuan penting karena ini menyediakan bukti pertama dari unta yang hidup di wilayah High Arctic," kata Natalia Rybczynski, paleontolog hewan bertulang belakang.

Ia menjelaskan, pencarian fosil ini telah diperluas dari wilayah Amerika Utara ke cakupan area lebih luas ke utara, sepanjang 1.200 kilometer. Selain itu, temuan menunjukkan bahwa unta modern saat ini kemungkinan berawal dari keturunan unta yang hidup di lingkungan hutan Kutub Utara.

"Beberapa spesialisasi terlihat pada unta modern, seperti kaki lebar datar mereka. Selain itu, mata besar dan terdapat punuk unta. Adaptasi kemungkinan berasal dari unta ynag hidup di lingkungan kutub," pungkasnya.

Fosil Buaya Usia 20 Juta Tahun Ditemukan

Paleontolog dari University of Florida baru-baru ini menemukan dua fosil buaya dalam kondisi utuh serta seekor hewan mamalia yang diduga pernah hidup 20 juta tahun lalu. Hewan purba ini ditemukan selama tugas penggalian yang dimulai sejak 2009 di Panama.

Hewan masa lampau yang diyakini sebagai nenek moyang buaya dan spesies hewan mirip kuda nil ini pernah tinggal di wilayah Amerika Tengah selama zaman Miocene sekira 20 juta tahun lalu. Studi ini laporkan dalam Journal of Vertebrate Paleontology.

Penelitian ini sekaligus memperluas jangkauan hewan purba di daerah subtropis. Ilmuwan juga mencoba memahami bagaimana perubahan ikim dapat mempengaruhi penyebaran spesies saat ini.

Fosil-fosil ini memberi wawasan baru pada pemahaman para ilmuwan tentang distribusi spesies, khususnya waktu sebelum terbentuknya Isthmus of Panama. Puluhan juta tahun lalu, diyakini benua Amerika Utara dan Selatan terpisah oleh laut.

"Kami mencoba memahami bagaimana ekosistem telah merespon hewan bergerak secara jarak jauh dan melintasi hambatan geografis di masa lalu," kata Jonathan Bloch, Vertebrate Paleontology di Florida Museum of Natural History.

Ia menjelaskan, perpindahan spesies ini menunjukkan kemampuan hewan untuk beradaptasi. Selain itu, penyebaran hewan ini juga berpengaruh terhadap peningkatan keanekaragaman spesies hewan turunannya di masa depan.

Peneliti memberikan nama spesies buaya purba baru ini dengan nama Centenariosuchus gilmorei. Nama ini diambil dari seorang penemu Charles Gilmore, yang pertama kali melaporkantemuan fosil buaya yang dikumpulkan selama konstruksi pembangunan kanal 100 tahun lalu.

Sementara hewan mamalia purba baru ini dinamakan Arretotherium meridionale, yang dianggap sebagai kerabat kuda nil. Hewan ini juga dipelajari terkait hubungannya dengan paus modern.

Ilmuwan Ungkap Asal-usul Jupiter & Saturnus?

Sebuah teori pemodelan yang diungkap Alan Boss dari Carnegie Institution for Science menunjukkan bagaimana planet gas raksasa di sistem tata surya, Jupiter dan Saturnus dapat terbentuk. Boss juga mengungkap asal-usul evolusi planet tersebut.

Boss menjelaskan, bintang baru dikelilingi oleh cakram (disk) gas yang berputar selama tahap awal kehidupan planet. Planet terbesar di sistem tata surya ini diperkirakan terbentuk melalui cakram gas.

Pengamatan bintang-bintang muda yang juga terbentuk melalui cakram gas ini menunjukkan bahwa bintang yang menyerupai matahari pernah mengalami ledakan periodik. Ledakan tersebut berlangsung sekira 100 tahun, di mana terdapat perpindahan massa dari cakram gas ke bintang muda.

Beberapa teori yang diungkap oleh ilmuwan mengungkap bagaimana planet gas raksasa terbentuk di sekitar proto-matahari. Salah satu dari teori mengungkap bahwa planet dapat terbentuk dari es dan inti batu, yang diikuti oleh percepatan pertumbuhan gas dari cakram yang ada di sekitarnya.

Teori lain mengusulkan, gumpalan bentuk gas padat di lengan spiral bisa meningkatkan massa dan kepadatan. Sehingga, membentuk planet gas raksasa dalam satu tahapan proses.

Boss mengembangkan model yang lebih rinci, yakni model tiga dimensi yang menunjukkan bagaimana planet gas raksasa bisa terbentuk. Model ini menunjukkan bahwa planet gas raksasa seperti Jupiter dan Saturnus ini mampu menghindari dari "terkaman" proto-matahari yang sedang tumbuh.

"Planet gas raksasa sekali terbentuk, akan sulit untuk dihancurkan. Bahkan, selama ledakan besar yang dialami oleh bintang muda," jelas Boss.

8 Maret 2013

NASA Curiosity Terkena Badai Matahari di Mars

Robot jelajah Mars, Curiosity kabarnya terkena badai matahari di Mars. Setelah Rabu lalu matahari melepaskan coronal mass ejections (CME), NASA menempatkan Curiosity pada posisi standby (siaga).

Curiosity berdiam diri pada Rabu setelah matahari melepaskan partikel bermuatan menuju Mars. "Kami menjadi lebih hati-hati," ungkap Richard Cook dari NASA Jet Propulsion Laboratory.

NASA memposisikan robot jelajah planet merah ini dalam posisi standby. Sementara rover Opportunity serta dua pesawat luar angkasa buatan badan antariksa Amerika Serikat melakukan aktivitasnya secara normal.

Pada Selasa, ilmuwan mencatat adanya ledakan surya besar dari matahari yang melemparkan radiasi ke arah Mars. Ledakan solar ini kabarnya menghasilkan awan gas super panas yang bergerak menuju Mars di kecepatan 2 juta mph (3,2 juta kilometer per jam).

Bob Rutledge dari National Oceanic and Atmospheric Administration mengatakan, ledakan surya ini tidak berada dalam tingkatan ekstrem. Akan tetapi, fenomena alam harus tetap diwaspadai.

Ilmuwan mengatakan, dampak ledakan surya tersebut kabarnya tidak akan berdampak pada Bumi. Namun demikian, NASA waspada apabila partikel bermuatan yang dilepaskan dari matahari itu akan menerpa Bumi hingga mengakibatkan gangguan jaringan satelit, layanan GPS serta mengganggu maskapai penerbangan.

6 Maret 2013

Video Robot Perkasa Bisa Lempar Objek Berat

Robot berkaki empat yang dikembangkan Boston Dynamics, memiliki kemampuan mengangkut benda melalui lengan capit yang dimilikinya. Kemampuan robot ini dalam melempar sebuah breeze blocks (semacam batu bata besar) diabadikan dalam sebuah video di YouTube.

Robot berkaki empat yang diciptakan pada 2005 ini memiliki panjang tubuh 3 kaki. Robot bernama BigDog ini dikembangkan dengan kemampuan berjalan menyerupai hewan.

5 Maret 2013

Benarkah Brachiosaurus Adalah Nenek Moyang Jerapah

Brachiosaurus merupakan dinosaurus berleher panjang dan pemakan tumbuhan (herbivora). Dengan lehernya yang panjang, benarkah dinosaurus ini merupakan cikal bakal mamalia modern, jerapah?

Brachiosaurus pernah hidup sekira 150 juta tahun lalu. Ketika dinosaurus dengan tinggi 14 meter dan panjang tubuh mencapai 26,5 meter ini punah, telah ada mamalia awal bernama Eutheria yang hidup bersama dinosaurus.

Eutheria diyakini sebagai hewan masa lampau sebagai cikal bakal ordo Artiodactyla (hewan mamalia berkuku genap). Lalu, ordo Artiodactyla ini kemudian memunculkan jerapah modern seperti saat ini. Sehingga, ilmuwan menyimpulkan bahwa Brachiosaurus bukanlah nenek moyang jerapah modern.

Berdasarkan penelitian terbaru, nenek moyang brachiosaurus dan jerapah ialah vertebrata amniote, yang merupakan hewan antara reptil dan amfibi. Hewan tersebut diyakini pernah hidup 340 juta tahun lalu.

Wikipedia menerangkan, brachiosaurus memiliki berat hingga 50-70 ton. Brachiosaurus termasuk satu dari tujuh dinosaurus terbesar sepanjang masa.

Fosil brachiosaurus ditemukan pada tahun 1902 di Amerika Serikat oleh Elmer Smith Ringgs. Fosil brachiosaurus ditemukan di Morisson Formation B (Amerika Serikat) dan Tendaguru Beds (Tanzania).

Kerangka brachiosaurus terlengkap dipajang di Museum Humboldt, Berlin. Kerangka ini memiliki panjang 22,5 meter dan tinggi hampir 12 meter dengan berat 27,2 sampai 49 ton.

NASA Curiosity Alami Gangguan Komputer di Mars

  Tim dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) mengalihkan robot penjelajah Mars, Curiosity ke komputer onboard. Ini dilakukan sebagai respon adanya masalah memori pada komputer.

Peralihan ke komputer onboard ini telah dimulai sejak 28 Februari 2013. Robot canggih besutan badan antariksa Amerika Serika ini berada dalam status aktivitas minimal yang disebut “safe mode”.

Tim akan mengalihkan Curiosity dari status “safe mode” atau modus aman ke status operasional selama beberapa hari ke depan. Kondisi gangguan ini terkait adanya kesalahan dalam memori, di mana memori ini berhubungan dengan sistem komputer.

“Kami mengalihkan komputer untuk mendapatkan ke keadaan standar untuk mulai memulihkan operasi rutin,” ujar Richard Cook dari Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA. Richard bertindak sebagai manajer proyek untuk Mars Science Laboratory Project, yang membangun dan mengoperasikan Curiosity.

Seperti pesawat luar angkasa lainnya, Curiosity membawa sepasang komputer utama. Apabila salah satu dari komputer Curiosity rusak, maka bisa dialihkan ke komputer cadangan.

Setiap komputer memiliki sisi A dan sisi B dan mempunyai subsistem yang terkait dengan komputer. Curiosity kini beroperasi di sisi B, seperti yang terjadi selama penerbangan dari Bumi ke Mars.

“Sementara kita melanjutkan operasi di sisi B, kami juga bekerja untuk menentukan cara terbaik untuk mengembalikan sisi A,” tutur Magdy Bareh, insinyur dari JPL NASA.

Seperti diketahui, NASA Curiosity telah mendarat di planet merah pada Agustus 2012. Misi pencarian robot senilai USD2,6 miliar ini ialah mencari tanda-tanda kehidupan mikroorganisme melalui penelitian sampel tanah, atmosfer maupun bebatuan Mars.

4 Maret 2013

Peneliti Menemukan Fosil Landak Purba

Peneliti asal Jerman telah menggali sisa-sisa fosil kerabat landak purba yang telah punah. Masih berada dalam kerangkanya yang utuh, ilmuwan meyakini fosil hewan purba ini berusia puluhan juta tahun lalu.

Dilansir Thelocal, palaentolog asal Jerman ikut dalam penggalian di situs Messel Pit, dekat Darmstadt. "Kami mendorong lapisan ke samping dan melihat fosil landak ini terbaring," kata peneliti, Weiss kepada harian lokal Frankfurter Rundschau.

Ia mengatakan, peneliti mungkin bisa mencari selama satu tahun dan tidak menemukan apapun. "Namun, kami punya keberuntungan lagi di sini (untuk menemukan fosil tersebut)," imbuhnya.

Situs ini sebelumnya merupakan danau, yang terbentuk dalam kawah gunung berapi. Situs ini telah ditetapkan sebagai warisan budaya Unesco untuk fosil yang ditemukan antara 57 sampai 36 juta tahun lalu.

Pada rentang waktu puluhan juta tahun tersebut, hewan mamalia dipercaya berkembang pesat. Kabarnya, spesimen ini merupakan fosil hewan purba ketujuh yang pernah ditemukan, dan salah satu yang terbaik untuk diawetkan.

Norbert Micklich dari museum Hessen di Darmstadt, yang memiliki banyak koleksi fosil dari Messel Pit, mengungkapkan bahwa temuan ini adalah luar biasa. "Anda dapat melihat bentuk bulu hewan oleh bakteri fosil yang tertinggal di situs tersebut," ungkapnya.

Peneliti menjelaskan, jika sampel sisa-sisa usus landak purba ini diteliti di bawah mikroskop elektron. Maka, peneliti mampu mengetahui apa saja yang dikonsumsi hewan mamalia masa lampau tersebut.

3 Maret 2013

Roket SpaceX Siap Meluncur ke Luar Angkasa

Perusahaan penerbangan antariksa swasta asal Amerika Serikat, SpaceX hari ini, Jumat (1/3) bersiap untuk meluncurkan roket beserta kapsul Dragon ke stasiun luar angkasa (ISS). Sebelum diluncurkan, kapsul ini telah diisi dengan berbagai macam keperluan astronot seperti pasokan makanan serta instrumen percobaan ilmiah.

Roket Falcon 9 mengangkut kapsul Dragon dari tempat peluncuran Cape Canaveral Air Force Station, yang letaknya berada di selatan Kennedy Space Centre NASA di Florida, Amerika Serikat. Dijadwalkan roket ini akan mengangkasa pada pukul 10.10 waktu setempat (3.10pm GMT).

Ditemukannya Fosil "Monster" Laut 500 Juta Tahun

Ilmuwan telah menggali dan menemukan fosil binatang yang diyakini pernah hidup 520 juta tahun lalu. Fosil ini merupakan makhluk laut, yang merupakan fosil binatang paling awal yang pernah ditemukan oleh peneliti.

Dilansir Nbcnews, makhluk laut atau "monster" ini merupakan arthropoda yang disebut Fuxhianhuiid. Memiliki anggota tubuh primitif, hewan paling 'jadul' ini kemungkinan menggunakan anggota badannya untuk mendorong makanan ke dalam mulutnya.

Hewan masa lampau yang bergerak dengan cara merayap di dasar laut ini bisa membuka wawasan baru bagi para peneliti mengenai evolusi arthropoda. Arthropoda meliputi krustasea dan serangga.

"Studi kami memberikan titik acuan penting untuk merekonstruksi sejarah evolusi hewan. Selain itu, studi ini juga mengungkap hubungan satu hewan yang paling beragam dan berlimpah di Bumi," jelas peneliti Javier Ortega-Hernández.

Lebih lanjut ia mengatakan, fosil ini memperlihatkan ke dalam perkembangan anggota badan arthropoda awal. Temuan ini telah dilaporkan dalam jurnal Nature.

Fuxhianhuiid diyakini hidup hampir 50 juta tahun sebelum hewan pertama muncul dari laut ke daratan. Paleontolog sebelumnya pernah menemukan fosil Fuxhianhuiid, yang ditemukan dengan organ internal halus yang tertutup oleh kulit besarnya.

"Fosil ini merupakan 'jendela' terbaik kami untuk melihat hewan paling primitif," tuturnya. Sebelum fosil ini ditemukan, menurutnya, belum ada indikasi jelas dalam catatan fosil mengenai evolusi hewan dan temuan ini merupakan sebuah hal yang penting.

1 Maret 2013

NASA temukan objek baru di Saturnus

Kamera satelit Cassini dengan kemampuan menangkap gambar wide-angle, berhasil mengabadikan area planet Saturnus bagian utara. Gambar ini menampilkan kutub utara Saturnus dengan struktur spiral dari awan yang memusat.

Dilansir Universetoday, Kamis (28/2/2013), orbit satelit Cassini milik NASA menunjukkan bentuk jet stream hexagonal dengan lebar 25 ribu kilometer. Pada November lalu, orbit satelit ini juga pernah mengabadikan gambar kutub utara Saturnus dengan lebih banyak terpaan cahaya dari matahari.

Jet stream hexagonal ini pertama kali pernah ditemukan oleh pesawat luar angkasa Voyager di awal era 1980-an. Material ini mengelilingi Saturnus di 77 derajat lintang utara dan berputar di sekitar planet dengan kecepatan 354 kilometer per jam.

Wikipedia menerangkan, Saturnus merupakan planet keenam terdekat dari Matahari dan planet kedua terbesar di sistem Tata Surya setelah Jupiter. Interior Saturnus terdiri dari komposisi inti besi, nikel dan batu,

Selain itu, Saturnus juga dikelilingi oleh lapisan dalam hidrogen metalik, lapisan menengah hidrogen cair dan helium cair. Kecepatan angin di Saturnus bisa mencapai 1.800 kilometer per jam (lebih cepat daripada Jupiter), namun tidak secepat yang ada di Neptunus.

Saturnus memiliki sistem cincin yang terdiri dari sembilan cincin utama. Sebagian besar dari cincin ini mengandung partikel es dengan jumlah yang lebih kecil dari puing-puing berbatu dan debu.